IMPLEMENTASI TEKNOLOGI RAIN HARVESTING UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN AIR DOMESTIK DAN MENINGKATKAN WATER STORAGE DI WILAYAH RAWAN AIR BERSIH

Afik Hardanto

Abstract


Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia diprediksi mencapai 28 % pada tahun 2035 dan 54.7 % penduduk Indonesia terpusat di Pulau Jawa. Kondisi tersebut akan diikuti dengan meningkatnya kebutuhan pangan, papan dan sandang. Pada tahun 2016, Badan Pusat Statisti (BPS) melaporkan kebutuhan rumah mencapai 11.4 juta unit. Meningkatnya kebutuhan perumahan memiliki dampak negatif terhadap konservasi sumber daya air, yaitu berkurang nya lahan terbuka terutama di wilayah perkotaan. Pada tata guna lahan vegetasi, aliran permukaan sebesar 10 % dari total masukan air hujan, angka tersebut mengalami kenaikan mencapai 55% ketika lahan berubah fungsi menjadi pemukiman. Hal ini berarti pengisian air tanah akan berkurang hingga 5 kali lipat. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan. Selain dampak negatif di daerah padat pemukiman, untuk mencukupi kebutuhan domestik, air hujan memiliki sifat yang lebih baik daripada air sumur dan sungai seperti: rendahnya bakteri E Coli, tidak mengandung garam terlarut dan mineral berbahaya meskipun kemungkinan mengandung senyawa korosif (antara lain: NH3, CO2 agresif, dan SO2) oleh karena itu di perlukan desain pemanen hujan yang bisa menghilangkan kandungan senyawa tersebut. Mitra program yang terletak di Desa Kaliori (sekitar 7 km dari UNSOED), merupakan daerah perumahan padat penduduk sekaligus termasuk wilayah krisis air bersih. Sehingga diharapkan penerapan IPTEKS Teknologi Rain Harvesting bisa memberikan solusi krisis air bersih sekaligus sebagai upaya konservasi sumber daya air.
Kata Kunci: Air bersih, Rain Harvesting, Konservasi Air, Urban, Kualitas Air

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.