PARTISIPASI KONSUMSI SEBAGAI INDIKATOR KONSUMSI PANGAN HEWANI DI DAERAH RENDAH KONSUMSI IKAN

Freshty Yulia Arthatiani, Tenny Apriliani

Abstract


Indonesia merupakan wilayah dengan potensi sumberdaya perikanan yang melimpah akan tetapi di di beberapa daerah konsumsi ikannya masih rendah. Pangan hewani termasuk didalamya ikan dan produk peternakan sangat penting sebagai sumber gizi untuk menciptakan sumber pangan berkualitas. Pengukuran konsumsi pangan hewani dapat dilakukan dengan menghitung tingkat partisipasi konsumsi sehingga dapat menunjukkan berapa besar konsumen untuk jenis komoditas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung tingkat partisipasi konsumsi pangan hewani yang terdiri dari ikan, daging, telur dan susu pada daerah rendah konsumsi ikan yakni Tabanan, Gunungkidul, Sumba Barat Daya dan Sintang. Sumber data yang digunakan adalah data SUSENAS tahun 2017 dengan jumlah responden sebanyak 2.548 rumah tangga yang dianalisis secara deskriptif melalui besaran tingkat partisipasi konsumsinya untuk kelompok pangan hewani ikan, daging, telur dan susu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi konsumsi pangan hewani tertinggi untuk daerah Tabanan dan Gunungkidul adalah telur dengan nilai sebesar 91,25% dan 88,92%, sedangkan unuk Sumba Barat Daya dan Sintang ikan memiliki tingkat partisipasi konsumsi yang tertinggi senilai 72,50% dan 95,24%. Tingkat partisipasi konsumsi ikan terendah ditempati oleh daerah Gunungkidul yang menunjukkan bahwa banyak rumahtangga yang belum mengkonsumsi ikan di daerah ini sedangkan yang tertinggi ditempati oleh Sintang. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Ikan sebagai sumber pangan hewani yang dapat dipenuhi oleh sumberdaya domestik seharusnya masih dapat ditingkatkan partisipasi konsumsinya dengan berbagai program promosi dan edukasi kepada rumah tangga yang belum mengkonsumsi ikan terutama pada daerah Gunungkidul, Sumba Barat Daya dan Tabanan. Peningkatan partisipasi konsumsi terhadap ikan diharapkan dapat menjawab masalah gizi yang dihadapi bangsa sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas dan daya saing sumberdaya manusia Indonesia.

Kata kunci: partisipasi, konsumsi, gizi, pangan hewani

 

Indonesia is an area with abundant fishery resource potential but in some areas the consumption of fish is relatively low. Animal food including fish and livestock products is very important as a source of nutrition to create quality food sources. Measurement of animal food consumption can be done by calculating the level of consumption participation so that it can show how many consumers are for certain types of commodities. This study aims to calculate the participation rate of animal food consumption consisting of fish, meat, eggs and milk in low-consumption areas of fish namely Tabanan, Gunungkidul, Sumba Barat Daya dan Sintang. The data source used is SUSENAS data for 2017 with 2.548 respondents analyzed descriptively through the participation rate for the animal food group of fish, meat, eggs and milk. The results showed that the highest participation rate of animal food consumption in the Tabanan and Gunungkidul areas was eggs with values of 91.25% and 88.92%, whereas for Southwest Sumba and Sintang fish had the highest participation rates of consumption of 72.50% and 95.24%. The lowest participation rate of fish consumption is occupied by the Gunungkidul area which shows that many households have not consumed fish in this area while the highest is occupied by Sintang. Therefore, it can be concluded that fish as an animal food source that can be fulfilled by domestic resources should still be able to increase its consumption participation through various promotion and education programs for households that have not consumed fish, especially in Gunungkidul, Southwest Sumba and Tabanan areas. Increased participation in consumption of fish is expected to answer the nutritional problems faced by the nation so that it can ultimately improve the quality and competitiveness of Indonesia's human resources.

Keywords: participation, consumption, nutrition, animal food.


Full Text:

PDF

References


Ariani, M., A. Suryana, S.H. Suhartini, dan H.P. Saliem. 2018. Keragaan Konsumsi Pangan Hewani Berdasarkan Wilayah dan Pendapatan di Tingkat Rumah Tangga. Analisis Kebijakan Pertanian 16(2): 147 – 163

Aridiyah FO, N Rohmawati dan M Ririanty. 2015. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita di wilayah pedesaan dan perkotaan. Jurnal Kesehatan 3(1): 163 – 170. https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JPK/article/view/2520/2029.

[BKP]. Badan Ketahanan Pangan. 2018. Direktori Perkembangan Konsumsi Pangan. Kementerian Pertanian. Jakarta.

[BPS]. Badan Pusat Statistik. 2017. Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Maret 2017. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

[BPS]. Badan Pusat Statistik. 2018. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2013-2017. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

[BPS]. Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya 2017. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Barat Daya. Tambolaka.

Delgado MA. Miles D. 1996. Household Characteristics and Consumption Behaviour: Non Parametric Approach [Working Paper]. Statistics and Econometric Series. Getafe (Spanyol): Universidad Carlos III de Madrid.

[DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul. 2017. Laporan Tahunan 2017. Gunungkidul.

[DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tabanan. 2017. Laporan Tahunan 2017. Gunungkidul.

[DKP] Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Sintang. Laporan Tahunan 2017. Sintang.

Hariyadi, P. 2015. Peranan Pangan Hewani dalam Pembangunan SDM Bangsa. Expert Opinion. Umami Indonesia 4(3): 12 – 15

[Kemenkes]. Kementerian Kesehatan. 2017. Hasil pemantauan status gizi (PSG) tahun 2016. Jakarta.

Kairupan,S.,P. (2013). Produk Produk Domestik Regional Bruto (Pdrb), Inflasi Dan Belanja Daerah Pengaruhnya Terhadap Kesempatan Kerja Di Sulawesi Utara Tahun 2000-2012. Jurnal EMBA 1(4): 2206 – 2216

Khomsan, A. 2010. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. PT Rajagrafindo Persada. Jakarta.

Murdiati, A. dan Amaliah. 2013. Panduan Penyiapan Pangan Sehat Untuk Semua. Edisi II. Kencana Prenademedia Group. Jakarta.

Mitra. (2015). Permasalahan anak pendek (stunting) dan intervensi untuk mencegah terjadinya stunting (Suatu Kajian Kepustakaan). J. Kesehatan Komunitas 2(6): 254 – 261

Ritonga H. 1994. The Impact of Household Characteristics on Household Consumption Behavior: a Demand System Analysis on The Consumption Behavior of Urban Households in The Province of Central Java. Indonesia. Iowa State University

[TNP2K] Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, 2017. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Sekretariat Wakil Presiden RI. Jakarta.

Sari EM, M Juffrie, N Nurani, MN Sitaresmi. 2016. Asupan protein, kalsium dan fosfor pada anak stunting dan tidak stunting usia 24-59 bulan. Jurnal Gizi Klinik Indonesia 12(4): 152 – 259

Soedjana, T., D. 2013. Partisipasi Konsumsi sebagai Alat Ukur Status Ketahanan Pangan Daging. Wartazoa 23(4): 165 – 175. http://medpub.litbang.pertanian.go.id › index.php › wartazoa › article › download.

Umeta M, West CE, Verhoef H, Haidar J, Hautvast J. 2003. Factors associated with stunting in infants aged 5–11 months in the dodota-sire district, rural Ethiopia. J.Nutrition 133(4): 1064 – 1069

Wellina WF, MI Kartasurya, MZ Rahfilludin. 2016. Faktor risiko stunting pada anak umur 12-24 bulan. Jurnal Gizi Indonesia 5(1): 55 – 61


Refbacks

  • There are currently no refbacks.