ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH (LONGSOR) DI DAERAH KEDUNGBANTENG MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Januar Aziz Zaenurrohman, Indra Permanajati

Abstract


Kabupaten Banyumas terutama di bagian utara sebagian besar tanah/batuannya dibentuk oleh batuan vulkanik yang tanah pelapukannya gembur, dan sebagian daerahnya berlereng terjal, sehingga pada musim penghujan mempunyai potensi untuk terjadi gerakan tanah. Morfologi Kabupaten Banyumas yang sebagian berupa perbukitan terjal yang disusun oleh batuan vulkanik berumur tersier sampai kuarter merupakan lokasi yang memiliki potensi gerakan tanah yang sangaat tinggi. Metode yang dilakukan untuk membuat peta zonasi kerentanan gerakan tanah adalah dengan analisa keruangan Sistem Informasi Geografi (SIG) dari parameter yang telah diberi bobot menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Parameter yang dapat mempengaruhi gerakan tanah adalah litologi, kelerengan, tutupan lahan dan densitas sungai. Kelerengan daerah kedungbanteng berkisar 0º sampai dengan 54.8 º. Litologi terdiri dari batupasir, endapan lahar, lava andesit, lava basalt, dan endapan piroklastika jatuhan. Densitas sungai secara keseluruhan didominasi oleh densitas menengah atau kerapatan sedang. Tutupan lahan pada bagian utara adalah hutan, sedangkan bagian selatan didominasi oleh perkebunan dan sawah. Hasil perhitungan AHP didapatkan parameter kelerengan yang paling berpengaruh terhadap kerentanan gerakan tanah.

Kata kunci: gerakan tanah, zonasi kerentanan longsor, kelerengan

 

Banyumas Regency, especially in the northern part of most of the land / rocks are formed by volcanic rocks which have weathered loose soil, and some areas have steep slopes, so that in the rainy season it has the potential to cause soil movement. The morphology of Banyumas Regency which is partly in the form of steep hills arranged by tertiary to quarterly volcanic rocks is a location that has high potential for land movement. The method used to create a zoning map of ground motion vulnerability is the Geographic Information System (GIS) spatial analysis of parameters that have been weighted using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. Parameters that can affect soil movement are lithology, slope, land cover and river density. The slope of the kedungbanteng area ranges from 0º to 54.8º. Lithology consists of sandstones, lava deposits, andesite lava, basalt lava, and falling pyroclastic deposits. Overall river density is dominated by medium density or medium density. Land cover in the north is forest, while the south is dominated by plantations and rice fields. AHP calculation results obtained slope parameters that most affect the susceptibility of soil movement.

Key words: soil movement, zoning of landslide vulnerability, slope


Full Text:

PDF

References


Cruden, D.M., Varnes, D.J. 1996. Landslide Type and Process, Special Report. Transportation Research Board, National Academy of Science 247: 36 – 75

Djuri, M., Samodra, H., Amin, T.C., Gafoer, S. 1996. Peta Geologi Lembar Purwokerto dan Tegal, Jawa Tengah, Skala 1 : 100.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung.

Karnawati, D. 2003. Himbauan Untuk Antisipasi Longsoran Susulan. Tim Longsoran Teknik Geologi UGM Yogyakarta. Tidak Diterbitkan.

Subowo, E. 2003. Pengenalan Gerakkan Tanah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Bandung.

Suryolelono, K. B. 2005. Bencana Alam Tanah Longsor Perspektif Ilmu Geoteknik. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Teknik UGM. UGM Press.

Sutawidjaja, I.S., Sukhyar, R. 2009. Cinder Cones of Mount Slamet, Central Java, Indonesia. Jurnal Geologi Indonesia 4(1): 57 – 75

Sutawidjaja, I.S., Aswin, D., dan Sitorus, K. 1985. Peta Geologi Gunungapi Slamet, Jawa Tengah. Pusat Survey Vulkanologi. Bandung.

Van Bemmelen, R.W. 1949. The Geology of Indonesia. Vol IA. General Geology, Government Printing Office. the Hague, Netherland.

Zolekar R. B., and Bhagat V. S. 2015. Multi-criteria land suitability analysis for agriculture in hill zone: remote sensing and GIS approach. Computers and Elektronics in Agriculture 118(2015): 30 – 32


Refbacks

  • There are currently no refbacks.